Rindu yang Bercerita
"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita.
Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.."
— Tere Liye —
Ini bukan tentang kamu yang pergi, melainkan tentangku yang menutup jalan bagimu untuk bisa kembali. Kembali ke sisiku.
Dulu.
* * *
Seseorang yang tak pernah pergi dari hati, ingin sekali kubertanya padamu.
"Apa kabar?"
Hari ini saja, kumohon hanya hari ini.
Izinkan rindu bercerita kepadaku tentang suaramu yang dulu berbicara padaku.
Tentang senyum dan tawa yang kau berikan setiap kali cerita anehku menggelitik pikiranmu.
Dan tentangku, yang meski mulutku tak berhenti berbagi kisah denganmu, namun mataku begitu malu menatapmu. Hingga diriku terdiam, tak bisa berkata lagi.
Rindu.
Rindu.
Mungkin bagimu itu hanyalah sebuah omong kosong. Mengapa perpisahan dan jarak itu harus kubuat jika pada akhirnya aku tetap merindukanmu, kira-kira seperti itulah yang akan kau katakan padaku.
Sejujurnya perpisahan itu, hanya tentang mata yang tak lagi menatap, telinga yang tak mampu lagi mendengarkan, raga yang tak pernah bisa lagi berdampingan.
Tapi sayangnya, itu tidak berlaku untuk hati.
Aku, si tak tahu malu, selalu mengharapkan kamu masih berada di ujung benang penghubung kita, menggenggamnya erat. Meski kini kamu sudah mengukir banyak kisah dengan seseorang yang baru, aku masih berharap bahwa ada sedikit saja sisi di hatimu yang menyimpan hal tentang diriku.
Seorang sahabat setia menjadi kawanku bercerita, sepertimu dulu.
Kubagikan segala ceritaku, keluh kesahku, rinduku, bahkan hingga mimpiku yang selalu berulang bertemu denganmu.
Aku dan kamu yang tak pernah mengatakan sepatah katapun dalam mimpiku, hanya tetesan air mata penyesalan yang bisa kita bagi bersama.
Entah bagaimana sosokmu bisa hadir tanpa pernah aku mengharapkannya.
Jika suatu hari kamu bersedih dan hatimu terluka karena mengingatku, mengingat semua perlakuan burukku kepada kamu yang berjuang demi kita bisa bersama, tolong berikan aku pertanda. Agar aku bisa memarahi diriku sendiri hingga separuh diriku ikut membenciku. Dengan begitu, aku harap kamu bisa melihat betapa menyesalnya aku telah melukaimu yang harus kubayar dengan membenci diriku sendiri.
* * *
Meski saat itu telah kukatakan padamu bahwa kehidupan kita akan berjalan ke arah yang berbeda, namun ternyata hatiku masih mengemas banyak hal tentang kita yang membuat langkah semakin berat untuk bisa meninggalkan.
Hingga saat ini.
Maafkan aku yang dengan berani masih mengusik hidupmu, meski aku tahu bahwa apa yang kukatakan ini tidak akan pernah sampai padamu.
Kuharap ini menjadi yang terakhir kalinya.
Tulus kudoakan agar kamu bisa menemukan kebahagiaan lebih baik dari yang kamu harapkan jika hidup bersamaku.
Dari aku yang selalu menyayangimu,
-Blue Butterfly-
“Rindu: Seluas-luasnya ruang persembunyian memeluk kehilangan.”
— Ilham Gunawan —
— Ilham Gunawan —
Komentar
Posting Komentar