Pada Masa, Kutitipkan Cinta
"Ada batin yang tak bisa berdusta. Ada cinta yang mulai menghinggapi relung hati. Tatap dan harap yang masih malu-malu. Namun tak 'kan pernah bisa bersembunyi."
-Lena Iqbal-
Bagaikan suatu mimpi yang tak pernah tahu kapan bisa kuakhiri.
Dihadapkan pada dua pilihan yang tak satupun bisa kulepaskan.
Dilema antara pilihan hati yang setia menanti tanpa tapi, dan hati yang rela menunggu tanpa ragu.
Aku, mencintaimu.
Aku, mencintaimu.
* * *
Tak ada yang bisa merenggut kesetiaan, sekalipun ia mengalami pengkhianatan.
Tak satu pun keikhlasan terlupakan, meski ia menghadapi keterpaksaan.
Hanya segenggam harapan, mampu menguatkan hati yang terselimuti ragu, dan sanggup meredam emosi yang membelenggu.
Tentang hati yang telah berani mengusik damaimu, menyelipkan perasaan yang semula hanya berawal dari ikatan pertemanan namun berujung pada ikatan kasih sayang.
Tentang hati yang telah berani mengusik damaimu, menyelipkan perasaan yang semula hanya berawal dari ikatan pertemanan namun berujung pada ikatan kasih sayang.
Pada pertemuan pertama, seperti katamu, harapanku bahwa kelak kau dan aku bisa mengukir kisah dan cinta dalam cerita yang indah.
Namun aku terlambat menyadari, bahwa rasa ini kelak hanya akan mengurungku sendiri dalam perasaan bersalah yang tiada berujung.
Dia di sana menanti dengan setia, sementara aku bersamamu menjalin cinta dalam keegoisan diri seakan lupa bahwa ini adalah kesalahan semata.
Dia di sana menanti dengan setia, sementara aku bersamamu menjalin cinta dalam keegoisan diri seakan lupa bahwa ini adalah kesalahan semata.
Tidak.
Cinta tak pernah salah, aku yang salah. Benar kau katakan bila cinta adalah hak setiap orang. Namun cinta di atas cinta bukanlah hak yang pantas kita perjuangkan.
Ini salahku.
Tak 'kan pernah ada cinta bila tak ada kesempatan yang terbuka.
Tak 'kan pernah ada cinta bila tak ada kesempatan yang terbuka.
Dan akulah si pembuka pintu kesempatan itu.
Membiarkan rasa yang menghinggapi relung hati tumbuh hingga ia tak tentu arah kemana ia harus kembali.
Dan pada akhirnya, aku hanya akan membuka pintu-pintu luka bagi mereka yang kucintai.
Aku keliru.
Aku keliru.
* * *
Perlu kau tahu.
Aku tak pernah menyalahkanmu dalam kisah ini.
Logika benar terkalahkan oleh perasaan.
Meski di hatiku telah terukir cinta dengannya, namun ia tak dapat berdusta.
Saat bahagia yang tak kudapatkan darinya ada padamu, kuputuskan mengalahkan akal sehat di atas keegoisan.
Aku tahu ini bukanlah hal yang benar, mereka tak tahu bahwa bukan kau yang pantas disalahkan. Tidak ada yang mengerti isi hati ini.
Bahwa ternyata, cinta adalah perasaan yang datang tanpa permisi.
Tidak memandang status.
Hanya menuruti kata hati yang tidak pernah tahu apakah jalan yang ia pilih salah ataukah benar. Tiada yang memahami bagaimana jatuh hati sementara hati ini sudah termiliki.
* * *
Biarkan kisah ini menjadi tanggung jawab hatiku.
Kutitipkan cinta pada lingkaran masa.
Biarkan rodanya berputar membawamu, membawa kita, pada jalan yang seharusnya.
Tak perlu memaksakan apapun.
Sebab hati, Tuhan telah menciptakannya agar ia bisa memilih yang terbaik.
Kuatkanlah cintamu dalam doa.
Kuatkanlah cintamu dalam doa.
Biar Tuhan yang menjalankan skenario-Nya.
Dan kita menjalani peran kita masing-masing,
meski kelak di masa depan tidak akan ada lagi jalan yang menyertai langkah kita bersama.
Seperti itulah cintaku, tak ada luka yang sengaja kutorehkan.
Saat ini,
Kubiarkan kau tersembunyi di balik tirai waktu.
Bersama kenangan yang dapat kuputar, mengembalikan ingatan saat kisah kita berada di putaran masa.
Kuatkan hatimu, sebab yang terbaik bukanlah untuk menjadi pilihan.
Ia ada untuk menjadi satu-satunya cinta.
Terima kasih.
Untukmu, seseorang yang pernah menjadi duniaku.
Meski perpisahan itu sulit untuk disampaikan pada awalnya,
tapi pada akhirnya, tujuan pertemuan ini memang bukanlah kebersamaan.
Berjanjilah.
Kamu akan bahagia.
-Blue Butterfly-
Komentar
Posting Komentar