Cukup Sekali Lagi

 "Mencintai seseorang adalah memberikan mereka kuasa untuk mematahkan hatimu, namun mempercayai bahwa mereka tidak akan melakukannya."
— Julianne Moore — 



Aku hanya sedang memberanikan diri, berani untuk mempercayai cinta yang kumiliki sekali lagi, dan selalu sekali lagi.

* * *

Satu hal yang kutahu, kepercayaan tidak pernah diberikan kepada seseorang, melainkan, kepercayaan adalah suatu perolehan. Bagaimana meyakinkan hati seseorang untuk mempercayai diri, mempercayakan apa yang ia mampu titipkan kepada orang lain tanpa rasa takut, tanpa rasa curiga, dan tanpa rasa waspada.

Kepadamu, aku memang tidak pernah memberikan hal itu, sulit sekali mempercayakan hati di saat berulang kali terkhianati.
Lantas, mengapa hingga saat ini aku masih bertahan untuk tetap bersamamu? 

Sebab aku percaya pada diriku sendiri.

Di saat tidak ada seorang pun yang bisa kita percaya, setidaknya, percayalah pada hati kita sendiri. Sebab, mempercayai siapapun dan tidak memberikan kepercayaan kepada satu orang pun merupakan kegagalan yang setara.
Itulah prinsip yang kujaga.

* * *

Semakin hari, dirimu semakin menunjukkan perubahan yang sama sekali tak menyenangkan. Mengingatkanku pada seseorang yang pada akhirnya pergi tanpa permisi, meninggalkan tanpa pesan, dan berlalu tanpa memohonku untuk menunggu.

Bukankah kamu sangat membenci orang itu?

Aku menyayangimu, melemahkan ego untuk tetap berpegang pada pendirian yang terkadang menyebalkan. Yang pada mulanya begitu enggan membuka hati, sampai pada akhirnya kuberkenan menitipkan separuh hati padamu. Lalu biarkan kusimpan separuh hati yang lain untuk kujaga andai suatu hari nanti kamu merusak yang ada padamu.

Kuharap kamu tidak tersinggung, karena seperti itulah mekanisme yang seharusnya terjadi.

* * *

Setiap kali kubertanya sesuatu yang terasa penting, kamu selalu menghindar. Saat kuharap kamu ada di saat-saat tersulitku, kamu menghilang, membuatku tak tentu arah tanpa tujuan kemana harus mencari sandaran keluh kesahku.

Ketika kumemilih untuk diam, kamu balas mendiamkanku. Seolah tak peduli tentang apa yang terjadi, padahal kupikir seharusnya kamu sudah jelas mengetahui bahwa kamu adalah sebab dari amarah yang kupendam.

Aku tidak perlu kamu bertanya, "kamu kenapa?".

Tidak jelaskah sikap yang kutunjukkan selama ini kutujukan untuk kamu?

Mungkin aku yang terlalu tinggi berharap bahwa kamu akan -setidaknya- merasa sedikit saja bersalah padaku. Aku tidak perlu kamu meminta maaf. Tidak bisakah kamu hanya memberikanku sedikit rasa pedulimu?
Hanya sedikit.

Aku ingin merasa dihargai olehmu.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya dikhawatirkan olehmu.

Mungkin kamu berpikir bahwa aku tengah marah karena aku mendiamkanmu. 
Sejujurnya hatiku sakit.

* * *

Bukankah akan sangat menyakitkan bila kita harus bersama-sama dengan orang yang seharusnya bersamanya kita merasa bahagia, namun kenyataannya dia adalah orang yang sangat pandai membuat terluka?

Aku tidak pernah khawatir dan takut untuk kamu tinggalkan, terlebih lagi, hanya terhitung beberapa waktu sampai hari penting itu terjadi. Aku bisa saja lebih dahulu pergi meninggalkanmu, meninggalkan semua kenangan dan kesempatan bagimu untuk semakin jauh menyakiti perasaanku.

Lalu bagaimana dengan orang tua dan keluarga?

Itulah yang membuatku bertahan hingga saat ini, aku tidak ingin menjadi racun bagi keluargaku dan juga keluargamu. Biarkan jika harus berakhir, kuizinkan kamu yang mengakhirinya. Biar semua kesalahan itu hanya nampak ada padamu.

Saat ini, aku hanya sedang menjaga perasaanku untuk tidak membencimu. Karena aku masih mampu memberanikan diri melangkah ke depan, semua  yang kumulai, harus dapat kuakhiri juga. Dengan atau tanpamu.

Aku bisa berbohong di depan semua orang dalam beberapa waktu, aku pun sanggup membohongi beberapa orang sepanjang waktu, tapi tidak untuk semua orang selamanya. Tidak berat membohongi orang lain, tetapi membohongi dirimu sendiri sama saja dengan merusak yang ada pada dirimu.

* * *

Walau apapun yang kukatakan, kulakukan, dan kutuliskan tak mampu mengetuk pintu hatimu yang kaku seperti batu. Tidak apa, akan tetap kusampaikan.

Kuharap kamu bisa menepati janjimu, tentang semua kekurangan yang kita miliki, biarkan kita berdua secara bersama menyesuaikan tanpa mengubah kepribadian, saling mempercayai tentang apa yang menjadi keluh kesah bersama. Bukankah melalui segala hal secara bersama-sama akan terasa lebih mudah dan menyenangkan?

Nyatanya, tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan seseorang yang kita sayangi dan kita hargai kehadirannya. Setidaknya, saat logika tidak mampu memberi penjelasan dengan baik, kita hanya perlu percaya, mempercayainya.

Aku hanya tidak ingin, suatu hari nanti, ketika kudapati masalah yang merusak kepercayaanku dan tiba saatnya aku bercermin, kulihat kamu di antara salah satu yang paling mengkhianatiku.

#
I wonder if you're thinking "Is she alright all alone?"
I wonder if you tried to call, but couldn't find your phone
Have I ever crossed your thoughts?
A moment in time, don't watch me cry

I'm not crying 'cause you left me on my own
I'm not crying 'cause you left me with no warning
I'm just crying 'cause I can't escape what could've been
Are you aware when you set me free?
All I can do is let my heart bleed


"Don't Watch Me Cry"
-Jorja Smith-
#



To be trusted is a greater compliment than being loved.
— George MacDonald —

Komentar