Jarak dan Perpisahan

 "Mengikhlaskan aku pergi, merelakan kau menghilang. Kuncinya adalah hati yang ikhlas menerima bahwa kita sudah tidak ada. Itu saja."



Waktu berjalan tanpa makna di antara kita.
Kau yang hadir dengan kesunyian, membuat aku seringkali tak berdaya dalam ketidaktahuan.
Sibuk menerka-nerka tentang apa yang terjadi di antara kita, meski sangat kupahami, bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi antara kau dan aku.

Aku salah.

*  *  *

Ada yang menunggu untuk kita selesaikan.

Dalam kesadaranku, aku mulai mengemasi banyak hal. Berawal dari perjumpaan kita yang tanpa diduga mengantarkan kita pada perjalanan hati yang mampu menguras emosi. Tak terhitung lagi berapa banyak tawa dan air mata yang membasahi pipi, dan berapa banyak janji yang pada akhirnya tidak bisa kita tepati.

Meski kenyataannya, beberapa potong ingatanku tetap mengembara ke arahmu, kepada rindu yang kini tanpa makna, merapuh, berserakan tanpa alasan. Membuat sedikit rasa sakit itu bersemayam di hati, aku tak punya pilihan.

Menyadari bahwa ikatan di antara kita sudah tak lagi ada, dan langkah kaki yang tak bisa tetap bertahan di tempat yang sama, memaksa kita beranjak dari rasa hati yang lalu menuju cinta yang baru. Memberi kesempatan pada hati yang siap menerima diri dalam kondisi terburuknya, yang sanggup bertahan dalam setia meski cobaan enggan pergi dengan tergesa.

*  *  *

Suatu ketika kau berkata padaku, ada amarah yang kian memuncak dan kesedihan yang tak mau berlalu di saat mata dan hati kita bertemu. 

"Mengapa bukan aku yang menjadi sosok terbaik untuk menemanimu pada akhirnya?"

Kau tahu?
Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup tidak bisa kita atur hasil akhirnya. Semesta selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan dan memisahkan, seperti yang terjadi antara kau dan aku. 

Namun satu hal yang harus kau mengerti.
Sesungguhnya, jarak bukanlah pemisah di antara pertemuan dan perpisahan, yang memisahkan kita hanyalah perasaan di hati.

*  *  *

Kuharap, perjalanan yang kita lalui bukanlah sebuah kesalahan. Meski kini kita terpisah, akan selalu ada rangkaian doa-doa tentangmu yang mengangkasa. Beranilah dan tetap percaya diri dalam mengambil segala keputusan, karena hidup kita adalah milik kita sendiri.

Mulai saat ini, kehidupan kita akan berjalan ke arah yang berbeda. Saling melepaskan, saling mendoakan, meski tak ada lagi pertemuan, namun hati selalu berpesan untuk tetap berada dalam kebahagiaan.

Terima kasih untuk segala pelajaran berharga yang secara tidak sadar kita pahami. Maaf untuk beberapa hal yang kita awali berdua namun tak dapat kita akhiri bersama.

Terakhir kalinya kukatakan,
Aku akan selalu menyayangimu.



-Blue Butterfly-

Komentar