Untukmu, Terima Kasih

 “Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya.”
-Tere Liye-



Itulah kalimat pertama yang terlintas di benakku saat ingin membuat tulisan ini. Mencoba mengungkapkan apa yang tak dapat kuucapkan melalui lisan ke dalam bentuk tulisan. Karena, hanya kutipan itu yang paling pantas untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Kusimpan di bagian paling awal hanya agar kau tahu, bahwa setiap kalimat yang akan kusampaikan nanti tertuju pada kalimat itu.

Aku bukanlah seorang penulis, bukan seorang yang cerdas merangkai kata demi kata menjadi suatu kisah yang bisa kau baca. Bukan pula ia yang pandai menyusun setiap nada menjadi sebuah irama yang bisa kau dengarkan setiap bait liriknya. 

Aku hanyalah aku, seorang yang beberapa menit ke depan akan membuat waktumu terbuang percuma. 

*  *  *

I don’t know where I have to start.

Semua bermula saat aku melihatmu di sana. Aku yang hanya melihatmu sebatas rekan kerja biasa, mengenal dan menyapa sebagai teman, dan bersikap baik seperti seharusnya. Dan memang benar, tak ada niat atau pikiran untuk menyimpan perasaan lebih padamu. 
Tidak.
Tidak ada sedikit pun.

Namun, hal-hal kecil yang ada pada dirimu justru mengarahkanku pada perasaan itu, perlahan membuatnya tumbuh, sedikit demi sedikit, dan terus hidup. Mulailah logika tak berjalan semestinya, akal sehat yang selalu bisa kukendalikan, pada akhirnya mengarahkanku hanya pada satu hal, kamu. 

Hingga aku mulai mencari tahu setiap hal tentangmu. Tempat tinggalmu, hobimu, usiamu, keseharianmu, dan tentu saja, statusmu. Disadari atau tidak, aku mulai bertanya tentang semua hal itu setiap kali kita bertemu. Seolah aku adalah paparazi yang akan terus mengejar dan mengganggu hidupmu hanya untuk mendapatkan semua hal yang ingin kuketahui tentang dirimu. 

Hari demi hari, tak ada yang kulewatkan untuk mencari tahu tentangmu. Aku seperti lelaki kebanyakan, lelaki yang seolah tak hiraukan apapun hanya demi menggapai tujuannya. Sampai suatu waktu, aku menghela napas, ada satu hal yang membuatku tertahan. Ya, kamu sudah tak sendiri. Dan bahkan, sedikit lagi kamu akan berada pada titik kebahagiaan yang suci. Seketika hati dan logika ini bertentangan, saling melawan. Saat logika berkata cukup, namun hati memaksaku untuk terus mengejar. 

Aku sadar akan akibat dari setiap keputusan yang aku ambil saat itu. Namun begitulah cinta, memabukkan, aku akui itu. Aku mengambil keputusan yang sebenarnya adalah keputusan yang salah. Aku abaikan semua itu, aku paksakan semua kemauanku hingga akhirnya aku berada pada suatu titik di mana aku tak mungkin lagi memaksa. Aku tertahan dalam keadaan di saat aku tak bisa lagi mengejarnya.

Satu hal yang membuatku berhenti sepenuhnya, dan itu adalah hati ini. Setelah semua hal yang aku coba justru menyakiti diriku sendiri, pada akhirnya hatiku tersadar dengan sendirinyaHati yang mampu menurunkan egoku, membuatku bisa berpikir, membuatku bisa menggunakan akal sehatku kembali.

*  *  *

Suatu malam, aku pernah meminta pada Tuhan. Tak banyak, aku hanya ingin diberikan jawaban atas semua yang menjadi pertanyaan dalam setiap doaku. Aku hanya ingin Dia tunjukkan arah yang harus aku ambil. Karena sejatinya, Dia-lah yang memiliki kuasa dalam membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Doaku terkabul, Tuhan memberiku jawaban terbaik-Nya. Akhirnya aku mengerti, bahwa tak semua hal bisa kudapatkan sesuai kehendakku. Tak setiap mimpi terwujud menjadi nyata sesuai inginku. Dan tak setiap khayalan harus dihadirkan dalam kehidupan. Kembali, hati masih sedikit menentang. Seolah apa yang ia inginkan harus benar-benar aku lakukan. Banyak waktu terbuang percuma olehku, hanya untuk merasakan semua konflik yang terjadi dalam diri ini. 

Ada satu hari, ketika kudapatkan banyak kesempatan untuk lebih banyak tahu tentangmu. Meski aku tak mengerti, apa alasan Tuhan membuat skenario seperti itu. Apapun itu, aku tetap merasa bersyukur. Karenanya, hati yang terus meradang ini sesaat merasa tenang. Seolah semua beban pikiran dan dilema hatiku hilang entah kemana. Sedikit banyak, aku merasa bahagia dalam semua teriakanku. Teriakan yang tak seorang pun bisa mendengar selain diriku sendiri.

Kulakukan semampuku, bertingkah seolah jadi orang yang paling bahagia di dunia hanya untuk menyembunyikan semuanya. Dan aku berhasil! Tapi sayangnya, tidak padamu. Kau selalu tahu tentang apa yang aku sembunyikan. Seakan kau bisa melihat semua yang ada di dalam diri ini. Aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu.

Dan hari saat kau mengetahui segalanya, adalah hari ketika semuanya selesai. Akhirnya, aku bisa mengalahkan hatiku ini, bukan, hati ini yang menyerah dengan sendirinya. Aku sadar, dan aku terbangun dengan tamparan keras yang kau sampaikan lewat tulisanmu. Aku terbangun dari mimpi yang sebenarnya tidak pantas aku impikan. Aku mengerti sekarang, jika titik terbesar dari mencintai seseorang bukan terletak pada saat kita berhasil memilikinya, namun saat kita mampu merelakannya.

Aku bergumam dalam hati, kalau begitu, untuk apa semua ini terjadi? 

Aku tersenyum kecil teringat akan satu kalimat, “Tuhan selalu menyimpan pelajaran dan hal baik di balik setiap skenario-Nya”. Ya, aku mengerti. Tuhan menghadirkan kamu di hadapanku dan menghadirkan perasaan ini hanya untuk membuatku bersemangat dalam ikhtiar bekerja. Tuhan tanamkan sedikit kasih sayang serta rasa sakit kemudian untuk membuatku mengambil pelajaran darinya

Tapi, untuk apa Tuhan menghadirkanku untukmu? Mungkin, hanya sebagai kerikil. Sedikit ujian “kecil” untuk hatimu, maaf, untuk kalian. Dan selamat, kalian berhasil melewatinya. Aku tak tahu seperti apa skenario Tuhan setelah ini. Tapi apapun itu, aku takkan pernah melawannya.

*  *  *

Teruntuk kamu,

Maaf untuk semua gangguan ini. Maaf untuk semua perasaan ini. Aku takkan berjanji untuk menghapus semua perasaanku, tapi aku akan berusaha semampuku. Kau pernah bilang, mungkin saat ini hatiku masih memperhatikanmu, dan seiring nanti, hati ini akan berpaling juga. Yah, semoga saja.

Kamu akan tetap menjadi penyemangat untukku. Yah setidaknya, untuk beberapa waktu ke depan, aku masih bisa mengagumimu. Dan inilah akhirnya, aku harus bisa melepaskanmu. Aku tak akan lagi berlari lebih jauh mendekatimu. Aku tak ingin menjadi benalu, aku tak ingin mengganggu setiap rencana indahmu. 

Dan yang terakhir ingin aku sampaikan di akhir tulisan ini adalah, terima kasih. Untuk segala kesempatan yang kamu berikan. Untuk semua sikap baik yang kamu tunjukkan. Kuharap, kamu selalu bahagia. 

*  *  *

Yang terpenting,
Seperti yang sudah kamu tahu, aku menyayangimu.




Dari pengagum rahasiamu.



“Terkadang, yang tak bisa kamu lupakan adalah seseorang yang tak pernah bisa kamu miliki.”

Komentar