Tentang Rindu Padamu

Kututup lembaran tentang cerita kita. 

Beberapa hari pertama kurasakan sedikit berbeda. Tak ada lagi yang usil menggoda bila aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Berminggu-minggu berlalu, perlahan kusadari bahwa kamu sudah tidak bersama di sini. Dan kini, empat bulan sudah kamu pergi meninggalkan.


* * *

Terasa sakit di sini, mengetahui bahwa kini kamu tidak lagi sendiri.
Memulai cerita-cerita baru dengan orang-orang baru. 
Tapi bukan sebab itu, sakit, sebab aku bukan lagi menjadi salah satu alasan untuk membuatmu tersenyum.
Tidak ada aku menjadi seseorang yang menemani kamu di saat bahagia maupun bersedih.
Tidak ada aku di tengah-tengah kebahagiaan yang sedang kamu rasakan. 
Dan bukan lagi aku yang ada untuk mendengarkan semua keluh kesah serta cerita menyenangkan kamu.

Perlahan, luka itu samar dengan sendirinya. Bukan terobati, hanya tersamarkan. Sesekali kuabaikan rasa rindu padamu, sebab itu hanya akan membuatku semakin sulit untuk melangkah maju. Tertahan dengan semua rasa yang kini sudah berlabel "kenangan" di dalam hati. 
Ya, termasuk kamu. 

* * *

Aku rindu bagaimana cara kamu membuatku tertawa dengan segala tingkah konyol yang sebenarnya tidak lucu sama sekali. Aku rindu dengan kecerobohanmu yang sengaja kamu buat hanya untuk membuatku kesal. Aku rindu pada sifat kekanak-kanakanmu yang kamu lakukan hanya agar aku memperhatikanmu. 

Aku rindu dengan ekspresi wajah kamu ketika mendengarkanku sedang mengeluh tentang semua masalah yang kuhadapi. Aku rindu segala hal-hal sederhana yang kamu buat, namun itu sangat berarti bagiku. Aku rindu tentang bagaimana kamu mengerti aku, bersikap berani di saat aku ketakutan, bersikap dewasa ketika aku menangis, dan bersikap manja ketika aku memarahi.

Aku rindu semua tentang kamu.
Aku rindu kamu.



-Blue Butterfly-

Komentar