Memori yang Kembali

 “Jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
 
Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.”
-Joko Pinurbo-




Dan pada akhirnya, semua perasaan itu telah benar-benar pergi.

* * *

Malam itu tak terlalu larut, namun jalan yang kulalui sudah cukup lengang dari para pengendara kendaraan. Sambil ditemani alunan musik sendu dari earphone, dan semilir angin yang lembut menyentuh permukaan kulit, sesuatu mengusik perasaanku.

Teringat akan sepenggal kisah lama yang membuat hatiku tersentuh, saat-saat yang menyenangkan, mendapati kenyataan bahwa saat itu aku dan kamu saling mencintai.
Tertawa bersama sambil menyusuri jalan yang kini tengah kulalui seorang diri.
Dan kini, aku hanya bisa tersenyum miris menyadari bahwa apa yang telah kita jalin bersama dengan susah payah harus kamu rusak seluruhnya, tak bersisa.

Aku hanya sedang mengenang kebersamaan kita, di sini.
Di tempat yang dulu heningnya tak terasa karena canda dan tawa.
Yang dinginnya tak pernah menusuk sebab hati menghangat karena bahagia.
Satu halaman yang tersisa dari buku yang dulu pernah menjadi favoritku ketika bersama kamu. 

Terima kasih.

* * *

Satu hal yang harus kamu tahu, sedikit pun bukan maksud hati 'tuk merindu. Tekad hati untuk melupakanmu menjadi sesuatu yang terasa berat di awalnya, mencoba memaksa hati untuk tak sedikit pun mengingat tentang kamu, namun tidak dengan kenangan kita. 

Segala hal baik dan buruk yang tanpa kita sadari telah membentuk suatu ukiran di dalam hati, bukan sebagai pengingat akan kepedihan dan rasa sakit, bukan pula untuk membangkitkan kembali rasa yang dulu kubangun untuk bisa bersama kamu, namun kembali untuk melatih diri menjadi sosok yang lebih memahami dan mengerti.
Tentang kedewasaan diri, tentang saling menghargai, tentang kepercayaan, dan tentang kejujuran.

Meski menyakitkan, namun itulah bentuk kenyataan. Seburuk apapun harus bisa kita terima. Betapa terluka mengetahui bahwa seseorang yang raganya dulu bersamaku namun jiwa dan pikirannya berkelana bersama seseorang di tempat yang lain. Seseorang yang menjadi buku favorit pilihanmu, yang dirinya tak ingin kamu lepaskan, yang kamu tersenyum kepadanya dan dia tersenyum kepadamu, dan yang kuharapkan adalah dia teman bahagiamu hingga akhir nanti. 

Tapi, tahukah kamu?
Faktanya, semua itu adalah apa yang dulu kamu lakukan kepadaku, dan membuatku hanya bisa menatap ke arahmu. Membuatku merasa bahwa kamu adalah duniaku.

Namun setelahnya, kusadari bahwa:
Kamu tak layak untuk tetap kupertahankan.

* * *

Aku hanya berharap tulisanku kali ini bercerita tentang kenangan indah yang terjalin di antara kita. Tentang aku dan kamu. Namun nyatanya, kenangan pahit selalu bisa merusak semuanya. 

Hingga tulisan ini tercipta, aku masih tidak menyangka, bahwa dengan sesuatu yang kita biasakan akan mampu mengubah hal yang kita kira tidak mungkin menjadi sangat masuk akal. 

Kamu tahu hal apa itu?
Ya.
Benar.
Tanpamu, aku telah berhasil melangkah maju.
Tanpa rasa sakit.
Tanpa kenangan pahit yang dulu kamu berikan.
Dan tanpa penyesalan sempat mengenal dan menciptakan kenangan yang membuat hidup kita lebih berwarna.

Semoga, dengan aku yang sempat hadir di hidup kamu, dan kamu tentu saja yang pernah singgah di hidupku, bisa menjadi pengalaman dan pelajaran untuk kita semakin mengerti.
Kamu yang kuharap dapat lebih banyak mendengar tanpa menyela, kamu yang kuharap bisa lebih banyak menasihati tanpa memaki, dan kamu yang kekanak-kanakan akan semakin dewasa untuk dapat menjadi panutan.


* * *

Hanya melalui tulisan aku dapat menyapamu yang kini entah sedang berada di mana. Tanpa menimbulkan perasaan baru, tanpa pertemuan yang sama sekali tak pernah kuharap akan terjadi.

Kamu tenang saja, bila suatu saat kamu merindukanku dan berharap untuk bertemu, kamu hanya harus percaya satu hal. Tuhan pasti akan bertanggung jawab karena telah menciptakan perpisahan, sebab Dia akan siap menanggung dan menerima rentetan doa-doa tentang pertemuan yang menanti untuk dikabulkan.

Tapi,
Kamu tak usah berharap aku melakukan hal yang sama.

Terakhir kali kukatakan,
"Kamu tak pernah layak untuk kuperjuangkan."



-Blue Butterfly-

Komentar