Akhir Cerita Kita
"Jika kepergian bukanlah akhir, maka jangan kembali bila tak lebih baik.
Jika kepergian bukanlah perpisahan, maka jangan kembali bila ingin pergi lagi."
-Pengagum Senja-
Ini tentang akhir dari sebuah kisah yang semula kukira tak berujung.
Pertemuan dua hati yang pada akhirnya harus saling menyakiti, dan perpisahan dianggap sebagai jalan terbaik untuk melanjutkan perjalanan.
Mengabaikan hati yang enggan untuk tersakiti.
Mengabaikan logika yang sedang berjuang mencari jalan keluar.
Bukan tentang siapa yang salah dan kalah, pun siapa yang benar dan menang.
Hanya, bagaimana menjalani sebuah cerita tanpa harus terus-menerus merasa terluka.
* * *
Aku mencintaimu, dan kutahu kamu pun mencintaiku. Tapi tetap bersama bukanlah akhir yang baik untuk hubungan kamu dan aku. Mungkin salah, memilih jalan dengan saling menyakiti untuk mempermudah sebuah perpisahan.
Menyakitkan, sungguh.
Namun, sekarang atau nanti pun, hati ini tetap akan terluka.
Kamu menjalin hubungan dengan sahabatmu, tiga bulan sebelum kita mengakhiri cerita ini. Begitu mudahnya mempermainkan hati yang selama ini mempercayai. Menanti kabar walau hanya sapa setiap pagi, menanti jawaban atas tanya hati yang selalu kuutarakan.
Kamu hanya diam.
Aku menyadari, kesalahanku di masa lalu yang membuatmu berbalik mengkhianatiku saat ini. Kalau saja aku tahu akan seperti ini, mungkin lebih baik kita membuat keputusan itu lebih dahulu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, biarkan terjadi yang seharusnya terjadi kini.
* * *
Terkadang, saat ego memenuhi isi kepalaku, sering kusimpulkan do'a agar kamu kembali datang untuk sekedar meminta maaf. Merasa bersalah dengan tingkah lakumu yang sedikit banyak menyakiti. Tapi aku sadar, ini bukan hanya tentangmu. Aku pun lihai dalam membuatmu terluka.
Kalau saja bisa kamu dengar, ingin kusampaikan kata maaf yang lebih dalam dari biasanya. Berharap kamu tak pernah menyesali dengan apa yang sudah kita lalui bersama. Mungkin kisah aku dan kamu, menjadi penghias dalam kanvas kehidupan kita masing-masing.
Seperti yang selalu aku katakan di awal pertemuan kita:
"Di dalam dirimu, aku sedang menunggu sesuatu untuk kulukiskan."
Masih sesak kurasakan setiap kali mengingat semua hal yang kita lalui dulu. Tapi bukan seperti itu kita menjalani hari yang baru. Setiap kali aku merindukanmu, aku berdo'a pada Tuhan semoga kamu selalu dalam perlindungan-Nya, kamu berbahagia melebihi kebahagiaan yang kamu rasakan ketika masih bersamaku. Aamiin.
* * *
Mengikhlaskan aku pergi, merelakan kamu menghilang.
Kuncinya adalah hati yang ikhlas menerima bahwa "kita" sudah tidak ada.
Itu saja.
Aku merindukanmu.
-Blue Butterfly-
Komentar
Posting Komentar