Hati Yang Berjalan Bersama Waktu
"Aku ingin melupakan hal yang melemahkanku bernama masa lalu. Hingga kubisa menatap ketegaran bernama masa depan. Kelak membangkitkanku dari keterpurukan atas takdir yang memporak-porandakan kisah."
-Lena Iqbal-
Untukmu,
Ini bukanlah sepucuk surat, bukan pula sebait puisi yang merangkai diksi dalam alunan rima dan irama. Tapi ini tentang sepenggal perjalanan hati, mencoba bertahan dalam cinta yang telah terjalin. Dilema antara tetap bertahan atau ikhlas melepaskan.
Sebab sejatinya, cinta yang tulus adalah tentang rela melepas bukan merenggut.
* * *
Tak pernah tahu apa yang akan terjadi kelak, bahkan esok, mungkin lusa, bisa saja apa yang menjadi ingin dan harap tak lagi sama. Namun, pada pertemuan yang pertama, kutitipkan segenggam harapan. Semoga kau dan aku bisa mengukir kisah yang baik, menemukan cinta dalam kisah yang indah.
Meski pada akhirnya, semesta menginginkan kita untuk kembali terpisah.
Yang aku pahami, setiap orang berhak jatuh cinta. Kepada siapapun, dan dalam kondisi apapun. Sebab cinta bukan lahir karena keadaan, tapi ia terlahir karena keinginan. Adanya hasrat untuk memiliki, menjadikan dia yang dicinta sebagai hak milik diri satu-satunya.
Dan itu lumrah.
Dan itu lumrah.
Di hatiku terukir cinta, adakah kau tahu?
Inginku untuk menggenapi hatimu, aku tak peduli waktu, ada atau tidak kesempatan bagiku untuk bisa mencintaimu. Sebab seperti yang selalu kudengar, cinta terkadang bisa menguras logika, akal sehat tak berjalan semestinya. Maka, jangan salahkan aku bila kusimpan rasa meski kutahu bahwa ruang hatimu tengah merajut cinta dengan yang lain.
Inginku untuk menggenapi hatimu, aku tak peduli waktu, ada atau tidak kesempatan bagiku untuk bisa mencintaimu. Sebab seperti yang selalu kudengar, cinta terkadang bisa menguras logika, akal sehat tak berjalan semestinya. Maka, jangan salahkan aku bila kusimpan rasa meski kutahu bahwa ruang hatimu tengah merajut cinta dengan yang lain.
Aku di sini menanti, menunggu kau berbagi dan ceritakan semua kisah seolah akulah sahabat baikmu. Lalu, ketika kau telah menyadari bahwa ada hati yang tengah dihinggapi asmara, maka akulah orang pertama yang akan menyambutnya dengan penuh suka cita.
* * *
Aku tahu ini bukanlah hal yang benar, mereka mencibir seakan aku adalah satu-satunya orang yang paling pantas disalahkan. Tapi ini tentang hati dan perasaan yang datang tanpa permisi. Mereka tidak mengerti, bagaimana jatuh hati pada hati yang sudah ada pemiliknya.
Aku sakit, hatiku sakit.
Setiap katamu, rupamu, suaramu, dan segala hal tentangmu yang terekam telah menjadi sepenggal kisah, menuntunku untuk menetapkan hati. Bimbang antara menghapusmu dalam ingatan dan hati, atau membiarkannya menari-nari bersama waktu. Aku bisa saja menutup mata, menganggap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi batin ini, ia tak pernah bisa terpejam.
* * *
Cinta,
Kini kuserahkan padamu. Aku tak dapat lagi berlaku, kekata tak dapat lagi kujadikan tameng atas semua yang menuntutku. Jika ada dua hati yang menyapa hatimu, manakah seharusnya jalan yang kau pilih?
Bila hati kedua yang menguasai keadaan ini, membiarkannya terus bersemayam dalam hatimu, atau kau hentikan? Itu pilihan.
Dan begitulah cintaku, tak sedikitpun kuberniat untuk menorehkan luka. Menyayat hati-hati yang tak bersalah, hanya demi kemenangan egoku sendiri. Yang aku lakukan hanya ingin membuatmu bahagia.
Saat ini,
Biarkan aku bersembunyi di balik tirai waktu, perlahan mengubur semua kisah yang takkan lagi membawa nama "kita" kembali ke putaran masa. Mencoba kutegarkan hati agar tak menyapamu, dalam diam sekalipun.
* * *
Untukmu,
Kumohon lupakan aku, tapi tidak cintaku.
-Blue Butterfly-
Komentar
Posting Komentar