Untukmu, Desemberku

"Waktu nyata berlalu tanpa bisa kita duga. Segala hal yang terjadi, terkenang hingga terlupa, mereka berbagai relief dalam hidup kau dan aku."


Desember. 
Dengan izin-Nya, aku dan kau tercipta dalam sebuah pertemuan yang meski pada akhirnya hanya berujung perpisahan.

Mereka bertanya padaku apa yang pernah berlalu pada Desemberku dulu?
Dan kujawab, kehadiranmu.
Apa yang tersisa dari semua itu?
Kukatakan, segala kenangan yang terukir bersamamu. 

Masihkah kau ingat?
Di pelataran sebuah museum, kau dan aku menghabiskan sepanjang siang bersama. Membicarakan banyak hal untuk saling mengenal. Dan secara tiba-tiba kau mengungkapkan perasaanmu padaku.
Kau tahu?
Betapa bahagianya aku saat itu. Meski bukan yang pertama, tapi inilah kali pertama cintaku bersambut.

Terkadang aku berpikir, akankah kau di sana merindukanku?
Atau setidaknya, sekilas tentangku terbesit di benakmu?
Tak banyak yang kuharapkan, kau selalu sehat dan berbahagia pun, itu cukup bagiku. Bingkisan doa akan selalu menjadi hadiah rahasiaku untukmu.

Suatu hari, pernah kucoba menghubungimu, namun begitu kusesali karena nomor telepon terakhir kau menghubungiku tak ada. Kucoba dari nomor lamamu, pun tetap tak bisa. Diam-diam kuintip lewat jendela maya, kau pun tak pernah hadir di sana.
Kemana kau selama ini?
Apa yang terjadi dalam hidupmu?
Mungkinkah suatu hari nanti kau akan kembali? 

Aku merindukanmu.

Sebenarnya banyak hal yang ingin kuungkapkan, namun semua sekedar melodi yang hanya mengalun indah di episode lama kita. Dan satu hal kutahu, ia takkan pernah menjadi bagian nyata yang mampu mengisi masa depan aku dan kau.
Tak pernah.

Dalam hati, aku masih menunggumu. Biarkan aku hidup tenang tanpa harus menerka apa yang sebenarnya kau rasakan terhadapku. Aku pun tak mau seperti ini, hanya satu yang kubutuhkan. Kau mencintaiku atau tidak, itu saja. Sebab yang terjadi dulu, hanya perasaanmu yang tak kupahami.

Dear My December,
Kau pasti tahu bahwa hidup harus terus berjalan, tak mungkin selamanya kita menoleh ke belakang. Tapi terus tersiksa dalam bayangmu, tak mampu aku terus seperti ini.
Sampai kapanpun, aku selalu berdoa agar kelak kita bisa bertemu kembali. Meski bukan untuk menyelesaikan untaian mimpi yang dahulu terputus, tapi aku hanya ingin melihatmu.
Melihat raga dan wajah teduh yang begitu kurindui.

Semoga dalam setiap perbincanganmu dengan Sang Pencipta, kau titipkan salam rindumu untukku. Seperti yang selalu kulakukan.
Aku akan selalu mengingatmu.
Dan itulah yang selalu menguatkanku.



-Blue Butterfly-

Komentar